Kamis, 20 September 2012

"Maaf" (Satu Kata Berjuta Makna)


Maaf ya sayang. 
Maaf ya bu.
Sori, bro! Atau dengan bahasa daerah,
nyuwun pangapunten,misalnya. 
Yang saya sebutkan tadi merupakan contoh kalimat pernyataan maaf.  Maaf itu apa sih?

Saya yakin kita sudah tahu apa arti maaf. Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang paling dekat artinya adalah ungkapan permintaan ampun atau penyesalan. Yap! Maaf itu merupakan ekspresi penyesalan. Merasa bersalah terhadap hal yang sudah diperbuat dan berharap keadaan kembali netral atau stabil.



Lalu? Gimana kalau ada orang yang (dengan egoisnya) bilang: “Tiada maaf bagimu!”


Dalam pemahaman saya, saat ada orang yang menyatakan 'tidak memaafkan', maka kita pihak yang meminta maaf telah gugur kewajiban. Artinya, saat kita berbuat salah atau orang lain merasa kita salah, tugas kita hanyalah meminta maaf dengan tulus dan pastinya tidak mengulangi kesalahan itu. Sisanya adalah tanggung jawab yang dimintai maaf.


Lho, kok gitu?



Eits, jangan salah, kita boleh 'berantem' kok. Paling lama tiga hari. Setelah tiga hari, orang itu wajib memaafkan. Berat memang, karena itulah orang yang mudah memaafkan tergolong orang yang mulia.



Terkadang kita melihat orang yang sudah menyatakan, “Gue udah maafin elo!” atau ungkapan memaafkan lain tapi orang itu masih saja sensitif terhadap orang yang bersalah padanya.


Kenapa itu terjadi?

Berbuat salah itu ibarat kita sedang 'memaku di sebuah dinding'. Dan orang yang kita 'salahi' adalah dinding tersebut. Saat orang memaku dinding, entah sedikit atau banyak (baca: dalem) pasti berbekas. Seperti itulah kesalahan. Pasti berbekas di hati orang. Padahal sebuah peristiwa yang diwarnai dengan emosi akan selalu teringat bahkan sampai ke dalam pikiran bawah sadar.

Mungkin ada yang pernah mengalami kejadian seperti ini? Lagi jalan-jalan, misalnya, tiba-tiba mencium parfum orang yang lewat, lalu mendadak jengkel, gedegempet banget. Detik berikutnya, ingatan kita melayang ke masa lalu dimana kita memiliki pengalaman dengan orang yang kita percaya atau sayang but, he/she stabbed us in the back! Nah, itu salah satu contoh mekanisme pikiran bawah sadar kita. Pikiran bawah sadar otomatis merekam kejadian yang berkesan buat kita. Baik kesan negatif atau positif.

Gimana dong? Gimana cara biar gak ngerasa gitu lagi?


Caranya, pahamilah kesalahan orang itu. Dan mengertilah bahwa kesalahan orang bukanlah orang itu sendiri.

Pahamilah kesalahannya. Tidak ada orang jahat, kejam atau label-label negatif lainnya di dunia. Yang ada cuma orang baik yang belum mengerti. Sadari yang orang lain lakukan itu berdasarkan nilai-nilai dan pengalaman yang dia punya. Isi selalu pikiran kita kalau semua orang pasti punya niat baik di segala perbuatan.

Kesalahan bukanlah orang itu sendiri. Orang cenderung memberi label buruk pada orang lain saat melakukan satu kesalahan. Belajar menetralisir kesalahan orang yang melibatkan perasaan atau kepercayaan adalah hal yang penting. Tidak hanya baik untuk orang tersebut tapi juga untuk diri kita sendiri.


Bagi pihak yang meminta maaf pun, tidak perlu khawatir.

Kenapa? 


Karena siapapun orangnya, saat kita berbuat salah baik sengaja maupun tidak, yakin orang tersebut mau memaafkan. Hal ini berkaitan dengan hati nurani yang tentunya dimiliki oleh tiap orang untuk memaafkan terhadap siapapun atau apapun kejadiannya.

Bagaimana dengan waktu? Bagaimana bila lebih dari 3 hari?

Saat waktu berlalu lebih dari tiga hari, bukan berarti semua berakhir. Semua orang menginginkan hubungan yang baik terhadap orang lain. Di saat seperti ini, yakinlah maaf itu akan muncul dalam waktu yang tidak lama. Walau mungkin tanpa diucapkan.
Kata maaf tidaklah harus menunggu Ramadhan atau Lebaran, ada baiknya kata ini juga diucapkan ketika kita berbuat salah. Seperti itulah yang baik, jangan kita hindari karena kita sendiri tidak tahu apakah kita punya waktu untuk meminta maaf?
Terkadang kita sulit  memaafkan seseorang terutama yang kesalahannya amat besar. Karena meski hanya terdiri dari empat huruf MAAF… terkadang orang sangat sulit dan kaku mengucapkannya, jadi baiknya daripada menunggu orang lain minta maaf , lebih baik kita minta maaf terlebih dahulu ke orang yang pernah kita sakiti atau kalau perlu kita memaafkan. Ini mungkin terlihat sulit, namun kita harus yakin bisa mengucapkannya.
Ada satu petikan kata di sebuah buku yang saya baca mengatakan ini tentang MAAF…

“Kembali lagi pada hukum alam, semua yang ada didunia ini hanya milik Allah. Sesuatu yang kita punya semata-mata hanya titipan atau amanah dariNya, dan manusia tidak layak untuk merasa kehilangan. Maaf itu sangat mulia, jika yang dimintai maaf memberi maaf itu maka Dia lebih mulia dari yang meminta maaf”….

Maaf, satu kata berjuta makna…. (^_^)v



Tidak ada komentar: